Aspek Produksi Teaching Factory TBSM SMK Negeri 12 Malang

A. Alokasi Usaha Teaching Factory TBSM SMK Negeri 12 Malang

Teaching Factory SMK Negeri 12 Malang berlokasi di Jl. Pahlawan Balearjosari Blimbing Malang. Dengan daerah pemasaran produk usaha penjualan sparepart sepeda motor segala merk dan jasa servis dan perbaikan sepeda motor segala merk yaitu warga SMKN 12 Malang dan warga disekitar sekolah.
B. Proses Waktu Kegiatan Teaching Factory TBSM SMK Negeri 12 Malang
Dalam melakukan pekerjaan dilakukan dengan rincian sebagai berikut:
Hari : Senin – Jumat
Waktu : 07:00 – 15:30 WIB
IV. Latar Belakang Teaching Factory SMK Negeri 12 Malang
Saat ini pendidikan kejuruan sedang dihadapkan pada pemasalahan yang serius yaitu belum terserapnya secara optimal lulusan sekolah menengah kejuruan oleh dunia usaha dan dunia industri. Dalam undang-undang nomor 20 tahun 2003 Bab 2 pasal 3 sudah diamanatkan bahwa :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Merujuk pada fungsi pendidikan diatas, maka peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia terus diupayakan dan dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman yang semakin global. Demikian juga halnya dengan pendidikan di Cianjur yang masih perlu pembenahan. Pendidikan merupakan ujung tombak dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka pihak-pihak yang terlibat dalam proses pendidikan (Pemda, Orang Tua, Masyarakat dan Instansi Pendidikan / sekolah) harus berperan aktif dalam meningkatkan kualitas dan juga kuantitas. Upaya pengembangan tersebut harus terprogram dan melalui jalur yang tepat agar yang dihasilkan benar – benar bermutu dan kompeten serta bisa bersaing dalam dunia global.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa SMK adalah lembaga pendidikan yang berfungsi sebagai lembaga pencetak tenaga terampil dan kompeten dibidangnya harus bisa selaras dengan kebutuhan dunia industri untuk bisa bersaing. Oleh karena itu peningkatkan sumber daya manusia (skill / keahlian) harus menjadi prioritas utama dalam rangka meningkatkan kualitas lulusannya.
Rendahnya kualitas lulusan sekolah kejuruan dapat berakibat produktifitas tenaga kerja terampil di dunia industri semakin terpuruk. Kepercayaan dunia industri semakin berkurang sehingga lulusan yang terserap juga sedikit. Faktor-faktor penyebabnya adalah :
1. Kurikulum yang terus berubah menyebabkan kondisi di lembaga pengelola pendidikan kejuruan semakin terbebani;
2. Belum adanya sumber pembiayaan yang memadai sehingga kebutuhan proses pendidikan di sekolah tidak maksimal;
3. Rekruitmen guru yang terkesan asal “jadi” dan syarat dengan muatan politis sehingga tidak sesuai dengan kompetensi /kualitas yang dibutuhkan;
4. Kurangnya kepedulian baik pemda, guru, orang maupun masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan.
Kondisi tersebut secara tidak langsung dapat berakibat lembaga pendidikan kejuruan tidak siap dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Seharusnya Sebagai lembaga pendidikan yang mendidik calon tenaga kerja, keunggulan yang dikembangkan oleh sekolah menengah kejuruan diutamakan pada keunggulan skill Sumber Daya Manusia (SDM). Untuk mencapai hal tersebut SMK harus memprioritaskan pengembangan sistem pendidikan yang berorientasi pada peningkatan tamatan yang benar-benar profesional, memiliki etos kerja, disiplin dan tetap menjunjung tinggi serta berakar pada budaya bangsa.
Untuk mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, maka pendidikan yang paling sesuai untuk meningkatkan hal tersebut adalah pendidikan yang berorentasi pada dunia industri dengan penekanan pada pendekatan pembelajaran dan didukung oleh kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dunia industri yang merupakan sasaran dari proses dan hasil pembelajaran sekolah menengah kejuruan mempunyai karakter dan nuansa tersendiri. Oleh karena itu lembaga pendidikan kejuruan dalam proses pembelajaran harus bisa membuat pendekatan pembelajaraan yang tepat dan sesuai dengan keinginan dunia industri. Salah satu model pendidikan yang cocok adalah dengan menerapkan teaching factory dalam proses belajar di SMK.
Teaching Factory adalah suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan sekolah. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pengelolaan siswa dalam pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. (Brosur IGI, 2007).
Program Teaching Factory (TEFA) merupakan perpaduan pembelajaran yang sudah ada yaitu Competency Based Training (CBT) dan Production Based Training (PBT), dalam pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar/ konsumen.
Dalam pengertian sederhaa teaching factory adalah pembelajaran berorientasi bisnis dan produksi. Proses penerapan program teaching factory adalah dengan memadukan konsep bisnis dan pendidikan kejuruan sesuai dengan kompetensi keahlian yang relevan, misalnya : pada kompetensi multimedia melalui kegiatan produksi multimedia maka proses perekaman, editing dan finishing dikerjakan oleh peserta didik.
Sebagai perwujudan nyata/implementasi UU No. 20 tahun 2003 untuk meningkatkan kualitas lulusan SMK di Kota Malang maka sejak tahun 2018 SMKN 12 Malang mulai menerapkan konsep teaching factory dalam pembelajaran pada Kompetensi Keahlian Teknik dan Bisnis Sepeda Motor. Untuk mendukung program ini, SMKN 12 Malang bermitra dengan PT. Astra Honda Motor sebagai mitra dalam menunjang keberhasilan Program Teaching Factory pada Kompetensi Keahlian Teknik dan Bisnis Sepeda Motor.
Program Teaching Factory merupakan langkah positif yang ditawarkan pihak SMKN 12 Malang kepada siswa dan orang tua murid guna mengembangkan jiwa enterpreneur, dengan harapan tamatan sekolah menengah kejuruan (SMK) mampu menjadi aset daerah dan bukan menjadi beban daerah Kota Malang.
Teaching factory merupakan suatu konsep pembelajaran pada tingkat yang sesungguhnya, untuk itu ada beberapa elemen penting dalam teaching factory yang perlu dikembangkan yaitu :
1) Standar Kompetensi
Standar kompetensi yang digunakan dalam pelaksanaan teaching factory adalah kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan dalam dunia industri. Dengan pengajaran yang berbasis kompetensi pada industri diharapkan siswa siap menghadapi tuntutan kebutuhan dunia industri. Untuk itu para pengajar arus di bekali dengan kompetensi sesuai standar industry dengan di buktikan sertifikasi kompetensi maupun surat keterangan magang pada industry rekanan.
2) Peserta didik
Penggolongan peserta didik / siswa dalam proses teaching factory adalah berdasarkan kualitas akademis dan bakat/minat. Siswa dengan kualitas yang seimbang antara akademis dan ketrampilan bakat/minat memperoleh prosentase yang besar untuk masuk dalam program ini. Siswa yang kurang dalam dua hal tersebut direkomendasikan untuk mengambil bagian yang termudah.
3) Media belajar
Media pembelajaran yang digunakan dalam proses teaching factory menggunakan pekerjaan produksi sebagai media untuk proses pembelajaran. Pekerjaan Produksi dapat berupa industrial order atau standard products. Produk ini harus dipahami terlebih dahulu oleh instruktur sebagai media untuk pengembangan kompetensi melalui fungsi produk, dimensi, toleransi, dan waktu penyelesaian.
4) Perlengkapan dan Peralatan (Toolkit)
Beberapa hal yang perlu diperhatikan:
1. Pemeliharaan perlengkapan dan peralatan yang maksimal;
2. Investasi untuk kegiatan teaching factory;
3. Manfaatkan untuk memfasilitasi pengembangan kompetensi siswa bersamaan dengan penyelesaian pekerjan “Production” pada tingkat kualitas terbaik;
4. Pengawasan atas peralatan dan perlengapan yang sudah tidak efektif untuk kecepatan dan ketelitian proses produksi.

5) Instruktur/Pengajar
Instruktur / pengajar adalah mereka yang memiliki kualifikasi akademis dan juga memiliki pengalaman industri. Dengan demikian mereka mampu mentransformasikan pengetahuan dan “know how” sekaligus men”supervisi” proses untuk dapat menyajikan “finished products on time”.
6) Penilaian Prestasi Belajar
Dalam penilaian prestasi belajar, teaching factory menilai siswa yang berkompeten melalui “penyelesaian produk”. Standar penilaian yang digunakan harus mengacu kepada pabrik yang mengeluarkan komponen / peralatan.
7) Pengakuan Kompetensi
Teaching Factory menilai kompetensi siswa menggunakan National Competency assessment, dimana asesor bersertifikat melakukan observasi pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas pekerjaan di bawah badan standar kompetensi nasional. Guna mendukung program teaching factory maka SMKN 12 Malang telah menyiapkan berbagai unsur penunjang diantaranya :
Instruktur/guru yang akan mendampingi kegiatan teaching factory adalah guru-guru SMKN 12 Malang yang telah berserifikat sebagai assesor sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing.
Berkenaan dengan teaching factory, SMKN 12 bersedia bekerjasama dengan SMK-SMK baik negeri maupun swasta di Malang yang berkeinginan mengembangkan teaching factory dalam proses pembelajaran di SMK, semoga melalui teaching factory ini dapat memberikan bekal siswa SMK supaya mereka dapat menjadi SDM yang berkompeten dalam bidangnya dan pada akhirnya “alumni SMK” dapat terserap oleh dunia usaha dan industri.
Salam SMK Bisa !!!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Atas