TEFA RPL: Proyek Perdana, Ladang Pendapatan sekaligus Berbagi

TEFA RPL: Proyek Perdana, Ladang Pendapatan sekaligus Berbagi

Tefa marupakan singkatan dari Teaching Factory yang berarti pembelajaran yang berorientasi produksi dan bisnis. Pembelajaran melalui tefa merupakan proses penguasaan keahlian atau keterampilan yang dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja.

Tefa sendiri telah diterapkan di kancah pendidikan menengah, khususnya SMK. Penerapan teaching factory di SMK merupakan wujud dari salah satu upaya Direktorat Pembinaan SMK untuk lebih mempererat kerjasama atau sinergi antara SMK dengan industri.

Di SMKN 12 Malang terutama jurusan RPL juga membuka Teaching Factory Rekayasa Perangkat Lunak. Di antara teaching factory itu, salah satunya adalah menerima jasa pembuatan website yang dikerjakan oleh para siswa RPL, baik kelas 10, 11, maupun 12 SMKN 12 Malang.

Menurut Bu Diyan selaku Kaprog RPL, banyak usaha lainnya yang berkaitan dengan tefa ini, selain jasa pembuatan web. Dari situ dapat membuka kesempatan dan peluang bagi para siswanya untuk berkiprah dalam bidangnya.

Salah satu buktinya adalah Mahdiyafi, siswa kelas XII RPL-2 yang mendapat proyek untuk membuat website di suatu pondok pesantren. Ia tidak sendirian dalam mengerjakan proyek ini, melainkan dibantu oleh salah satu temannya yang bernama Syarif.

Mereka mengaku berawal dari liburan sekolah yang ingin mencari kesibukan yang dapat menghasilkan. Akhirnya mereka mendapat tawaran untuk membuatkan web sebuah ponpes. Mereka pun menerima proyek ini dengan honor hanya sebesar Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah), padahal umumnya biaya pembuatan web bisa sampai Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah) atau Rp 4.000.000,00 (empat juta rupiah). Hal ini dilakukan karena mereka memang berniat membantu sekaligus bersedekah.

Dalam pembuatan web ini, mereka meminta bimbingan Kepala Program bidang Keahlian RPL, yakni Ibu Diyan Wahyu Astuti, S.Kom. Mereka mengerjakan web ini maksimalnya satu bulan, yang dalam satu minggu dikerjakan sebanyak tiga kali.

Untuk tema yang diambil dalam pembuatan web ini sendiri adalah “Pendidikan”. Karena memang konsumen bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan pondok pesantren tersebut. Sekaligus untuk memudahkan penyampaian informasi kepada para santri atau santriwati didiknya dengan hanya menggunakan media sosial. Selain itu juga sebagai sarana pemublikasian prestasi dan kreativitas santri di sana.

Mahdi juga menjelaskan untuk pembuatan web ini, mereka harus membeli hosting dan domain, karena memang sudah persyaratan pembuatan web resmi. Untuk biaya pembeliannya tersebut diambil dari penghasilan tadi, sisanya baru mereka bagi dua.

Bu Diyan juga berharap untuk ke depannya teaching factory tidak hanya menerima pemesanan web namun juga aplikasi yang lain. Beliau juga berharap dengan pembuatan web ini, anak didiknya bisa mengetahui bagaimana dunia kerja atau dunia industri. Di sisi lain, Mahdiyafi pribadi juga memiliki harapan yakni, ingin suatu saat bisa mendapat proyek semacam ini yang tingkat kesulitannya berbeda, dan tentunya bisa lebih baik lagi dari sebelumnya. Selain itu, ia juga berharap mampu menciptakan sesuatu yang baru yang pastinya berguna untuk semua orang.

Don’t shy to have a dream, and believe in your dream! Karena semua berawal dari mimpi, bukan? So, good luck:)

By: Sely&Fito-Timjurnalistiksmechatwolasma

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Atas